Konservasi Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati
Nama
: Henny Astuti
Npm
:A1D021028
Kelas
: 1A
Dosen
pengampu : Dr. Hari Sumardi, M.Si
Konservasi Ekosistem
dan Keanekaragaman Hayati
A. Keanekaragaman
hayati
Keanekaragaman hayati merupakan
variasi atau perbedaan bentuk-bentuk makhluk hidup, meliputi perbedaan pada
tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme, materi genetik yang dikandungnya, serta
bentuk-bentuk ekosistem tempat hidup suatu makhluk hidup. Keanekaragaman hayati
berasal dari kata keanekaragaman dan hayati. Kata keanekaragaman dimaksudkan
untuk menggambarkan perbedaan keadaan suatu benda yang dapat terjadi karena
perbedaan ukuran, bentuk, tekstur, atau
jumlah. Sedangkan kata “Hayati” menunjukkan sesuatu yang hidup. Jadi,
Keanekaragaman hayati merupakan berbagai organisme yang hidup di biosfer.
B.
Faktor
yang mempengaruhi keanekaragaman hayati
Faktor-faktor yang mempengaruhi
keanekaragaman hayati dibedakan menjadi dua, yaitu faktor internal dan
eksternal. Faktor internal yakni faktor keturunan (genetik) karena adanya gen
yang akan memberikan sifat bawaan atau sifat dasar, dimana sifat dasar tersebut
diwariskan secara turun temurun dari generasi menuju generasi berikutnya oleh
induk kepada keturunannya. Faktor eksternal yakni faktor lingkungan, dimana
faktor lingkungan dibagi menjadi tiga faktor yaitu faktor lingkungan klimatik
(iklim), faktor edafik (tanah), dan faktor fisiografik. Iklim sangat
berpengaruh terhadap munculnya berbagai jenis keanekaragaman hayati, karena
iklim berperan penting dalam mempengaruhi kelangsungan hidup hewan maupun
tumbuhan. Selain itu, relief tanah maupun tinggi rendahnya bumi mempengaruhi
temperatur pada lingkungan. Sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi adanya
perbedaan pada berbagai jenis hewan dan tumbuhan yang ada di dalamnya.
Sementara itu, faktor fisiografik yang mencangkup keadaan alam pada suatu
negara, dimana faktor tersebut berpengaruh terhadap persebaran flora dan fauna
di negara tersebut.
C. Bentuk
keanekaragaman hayati
Suatu keanekaragaman hayati terbagi
menjadi tiga yaitu keanekaragaman hayati tingkat gen, keanekaragaman hayati
tingkat spesies, dan keanekaragaman hayati tingkat ekosistem. Semua bentuk
keanekaragaman hayati berasal dari tingkat genetik. Keanekaragaman hayati
tingkat gen dapat terjadi karena adanya variasi susunan gen pada satu spesies
atau jenis. Setiap individu mempunyai banyak gen, jika terjadi persilangan
antar individu yang berbeda, maka akan menghasilkan keturunan yang baru dengan
variasi yang berbeda-beda. Keanekaragaman gen akan semakin tinggi jika
mengalami persilangan. Hal ini terjadi karena penggabungan gen-gen individu
melalui dua sel gamet yang berbeda. Contoh keanekaragaman gen yaitu variasi
jenis kelapa seperti kelapa hijau, kelapa kopyor, dan lainnya.
D. Dampak
yang ditimbulkan oleh keanekaragaman hayati
Saat keanekaragaman genetik
bertambah banyak maka semakin banyak pula kemungkinan kombinasi sifat-sifat
yang diperoleh dari populasinya. Secara umum keanekaragaman dipengaruhi oleh
lingkungan karena kondisi tempat tinggal organisme tersebut tidak seragam dan
tidak konstan, sehingga seringkali mengaburkan sifat genetik yang dimiliki oleh
suatu organisme. Keanekaragaman suatu organisme ditentukan oleh sifat genotip
dan fenotip. Genotip merupakan serangkaian gen yang dimiliki oleh suatu
individu yang berkenaan di sifat tunggal atau serangkaian sifat lain pada
individu. Gen tersebut nantinya akan mengkode sifat fenotip. Fenotip sendiri
adalah sifat yang tampak dari suatu organisme yang merupakan hasil dari gen
yang diekspresikan dari lingkungannya.
E. Cara
untuk melestarikan keanekaragaman hayati
Keanekaragaman hayati sangat
bermanfaat bagi manusia, oleh karena itu manusia wajib menjaga dan melestarikan
keanekaragaman hayati tersebut. Melestarikan keanekaragaman hayati dapat
dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan cara in-situ dan ex-situ.
Pelestarian secara in-situ, adalah
perlindungan jenis makhluk hidup di habitat aslinya. Pelestarian in-situ diwujudkan dalam bentuk taman
nasional, suaka margasatwa, taman laut, dan cagar alam. Adapun pelestarian
secara ex-situ, yaitu perlindungan
jenis makhluk hidup yang diambil dari habitat aslinya untuk dipindahkan ke
habitat lain yang lebih cocok bagi kelangsungan hidupnya. Pelestarian ex-situ diwujudkan dalam bentuk kebun
binatang, kebun raya dan kebun plasma nutfah.
F. Tantangan
yang dihadapi dalam mewujudkan keanekaragaman hayati
Penurunan keanekaragaman hayati
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain akibat dari kegiatan manusia,
pemukiman kerusakan hutan, perluasan area pertanian, dan lain sebagainya. Ada
pula permasalahan yang ada di Indonesia dalam keanekaragaman, yaitu tantangan
dalam mengelola keragaman hayati meliputi pemanfaatan, pelestarian,
pengetahuan, dan kebijakan. Pada aspek pemanfaatan masih ada benturan
kepentingan antara sektor kehutanan, pertanian, transmigrasi, dan sarana umum
wilayah. Perbenturan kepentingan antar sektor di Kawasan pelestarian pun tidak
dapat dihindari jika daerah pelestarian masih ditemukan bahan tambang seperti
batu bara, minyak, timah, dan lain-lain. Dalam upaya pelestarian keanekaragaman
hayati melalui konservasi juga tidak mudah untuk dilakukan. Namun hal ini harus
tetap dilakukan dengan mengingat pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati
dari ancaman pihak individu, kelompok, swasta, bahkan pemerintah itu sendiri.
G. Konservasi
ekosistem
Kelestarian makhluk hidup di dunia
ini bergantung pada ketersediaan habitat atau ekosistem sesuai atau memadai.
Ekosistem adalah suatu unit ekologis yang mempunyai komponen biotik dan abiotik
yang saling berinteraksi dan terjadi pengambilan dan perpindahan energi, daur
materi dan produktivitas diantara komponen-komponen tersebut. Konservasi
berbasis ekosistem merupakan salah satu pendekatan dalam konservasi. Konservasi
berbagai ekosistem yang berada di dalam maupun di luar kawasan konservasi
merupakan upaya yang sangat diperlukan sebagai suatu tindakan kehati-hatian
ketika pengetahuan tentang spesies-spesies di sebuah ekosistem masih terbatas.
Tujuan konservasi ekosistem diantaranya adalah meningkatkan konservasi spesies.
Konservasi merupakan pelestarian atau perlindungan yang secara harfiah,
konservasi berasal dari bahasa Inggris, conservation
yang artinya pelestarian atau perlindungan.
H. Bentuk-bentuk
ekosistem
Ekosistem secara luas dibagi
menjadi ekosistem terestrial (darat) dan ekosistem akuatik (perairan). Pada
ekosistem terestrial merupakan ekosistem yang faktor lingkungannya lebih
didominasi oleh daratan. Suhu atau curah hujan atau variasi dari keduanya
merupakan faktor abiotik yang menjadi kunci pembentuk komposisi komunitas
makhluk hidup di ekosistem darat. Seperti halnya ekosistem darat, pada
ekosistem akuatik juga dipengaruhi oleh serangkaian faktor abiotik. Faktor
faktor yang banyak mempengaruhi kehidupan dalam ekosistem akuatik yaitu gerakan
air, salinitas air, atau kadar garam terlarut dalam air, suhu, dan cahaya
matahari. Dalam hal ini, cahaya matahari sangat penting bagi komunitas
organisme yang ditemukan di ekosistem akuatik. Secara umum ada tiga tipe
ekosistem, yaitu ekosistem air, ekosistem darat, dan ekosistem buatan.
I. Manfaat
keanekaragaman hayati bagi manusia
Keanekaragaman hayati yang tercipta tentunya memiliki manfaat bagi kehidupan manusia yaitu sebagai pasokan makanan, produk pestisida alami, obat-obatan, manfaat bagi lingkungan dan sebagai sumber pendapatan. Pasokan makanan yang dimaksud ialah hewan dan tanaman, sebagai contoh ikan nila dan kangkung sebagai bahan pangan yang dapat dikonsumsi oleh manusia.
https://docs.google.com/document/d/1zeL6fX9a5D1eIgWXk_i_bqi8K0at6p78/edit?usp=sharing&ouid=102956939321018633990&rtpof=true&sd=true
Komentar
Posting Komentar